Kesuksesan yang Gagal (1)

“Aku harus kuliah di ITB,” aku bulatkan tekad sejak masih SMA. Demi masuk ITB, aku rela bangun sebelum subuh, membasuh muka kemudian belajar latihan soal-soal tes masuk ITB sampai jam enam. Setelah itu bersiap-siap berangkat sekolah. Di sekolah aku banyak memanfaatkan waktu untuk belajar soal-soal tes masuk ITB juga. Tidak peduli pak guru sedang mengajarkan pelajar apa pun. Selain latihan untuk tes masuk ITB bagiku tidak penting. Pulang sekolah, habis makan siang aku juga langsung ngebut belajar tes masuk ITB. Sampai larut malam aku terus berlatih tes masuk ITB.

Tidak banyak yang dapat membantuku. Orang tuaku tidak pengalaman dengan urusan perguruan tinggi semacam ITB. Guru-guru di SMA ku juga tidak tahu banyak tentang ITB. Teman-teman sekolahku tidak tertarik untuk kuliah di ITB. Terlalu jauh bila harus kuliah ke Bandung. Di Jawa Timur banyak universitas yang bagus-bagus tidak harus ke Bandung. Begitulah pendapat teman-teman SMA. Tapi tekadku sudah bulat, “Aku harus kuliah di ITB.”

Belakangan aku baru tahu bahwa Ibu adalah yang paling cemas tentang diriku. Beliau tidak mau cerita langsung ke aku. Ibu melihat aku yang begitu semangat untuk kuliah di ITB tentu sangat bangga. Tetapi Ibu cemas,

”Apa jadinya bila Jakson tidak lulus test ITB?”

Ibu sangat khawatir bila aku tidak diterima di ITB maka aku akan stress.  Aku memang anak Ibu yang paling cerdas. Aku memang pantang menyerah. Aku memang selalu belajar dengan tekun. Tetapi tidak mudah untuk lulus tes masuk ITB. Dan bila aku tidak lulus, setelah perjuangan yang begitu berat, aku memang tidak dapat membayankan dampak akhirnya seperti apa.

Waktu lima tahun dengan cepat berlalu. Suasana sore aku pikir waktu yang tepat untuk menelepon Ibu. Panas matahari sudah mulai memudar. Semoga Ibu tidak terlalu cemas memikirkan aku. Meski biaya telepon interlokal sore hari masih mahal aku harus menelepon Ibu. Singkat saja.

“Ibu…Aku lulus.”

“Opo Le…?” suara Ibu dari seberang kurang jelas.

“Jakson lulus sidang skripsi. Jakson sekarang insinyur Bu.”

“Alhamdulilah…”

Terdengar doa dan isak tangis bahagia Ibu. Di belakang Ibu juga sayup terdengar suara saudara-saudaraku mengucap syukur.  Aku rasa, cukup sudah aku menebus kekhawatiran Ibu lima tahun yang lalu.

Wisuda masih dua bulan lagi. Aku punya waktu yang cukup untuk pulang dulu ke Tulungagung. Berbagi kebahagiaan setelah lima tahun merantau di ibu kota tanah Sunda: Bandung nan sejuk. Budhe, bulik, paklik, pakde, nenek, dan seluruh handai tolan dengan bahagia menerima kedatanganku. Tentu saja, Ibu, Ayah, Adik dan Kakakku adalah yang paling berbahagia. Mereka semua berencana untuk hadir dalam upacara wisudaku – satu-satunya anggota keluarga yang berhasil meraih gelar insiyur dari ITB.

Hanya beberapa hari aku tinggal di Tulungagung. Aku kembali ke Bandung untuk mengurus administrasi dan berbagai hal teknis persiapan wisuda. Di sela-sela itu aku juga sudah mempunyai pekerjaan yang harus aku selesaikan di Bandung. Dalam suasana hati yang gembira, waktu dua bulan begitu cepat berlalu. Seminggu lagi adalah hari wisudaku.

“Nomor telepon berapa saja yang bisa saya hubungi?” tanya seorang petugas.

Saya memberikan beberapa nomor telepon. Petugas itu menerimanya lalu menelepon ke Ibu yang ada di Tulungagung.

“Apa…Innalilahi…” Ibu menerima telepon sambil tidak percaya.

“Widjaksono kecelakaan motor dan sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit Boromeus Bandung,” petugas menjelaskan.

Pertemuan keluarga yang sedianya menjadi wahana berbahagia seminggu lagi kini berubah menjadi bagai langit bergayut mendung. Anak satu-satunya yang seharusnya wisuda memperoleh gelar insinyur kini harus menginap di rumah sakit dengan kaki kiri patah tulang. Aku tidak jadi ikut wisuda oktober itu. Kaki kiriku patah. Butuh waktu berbulan-bulan untuk pulih – itu pun jika dapat dipulihkan.

Kenyataannya aku memang tidak pernah ikut wisuda sarjana ITB.

Dengan kaki kiri yang patah aku harus melanjutkan hidup, pantang menyerah. Kaki kiriku boleh patah. Tetapi hatiku tidak akan patah. Meski aku tidak tahu apa yang dapat aku kerjakan dengan kaki kiri yang patah toh aku punya kaki kanan yang utuh. Lulus kuliah bukan akhir. Lulus kuliah adalah awal kehidupanku.

7 Responses to Kesuksesan yang Gagal (1)

  1. budi says:

    salam kenal mas,salut to semangat dan perjuanganx.sama dng mas agus,bergerak di bidang pndidikn pasx membantu anak”belajar,bsakh saya belajar pd mas agus biarpun cma sharing via online?
    klo bsa kisah”kesuksesan yg gagal”dilanjutin lgi mas,bsa buat tmbh motivasi hdup.

  2. gusngger says:

    Salam Budi,
    Kita selalu dapat belajar bersama sharing secara online.

    Kisah ini rencananya memang ingin saya lanjutkan. Mohon dukungannya.

    Terima kasih…

  3. za says:

    Jackson Widjaksono?

  4. gusngger says:

    Hahaha… aktor adalah bagian paling serunya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s