Penetapan Awal Ramadhan 2012 tidak Perlu Rukyah, tidak Perlu Sidang Isbat

Kamis sore ini akan dilaksanakan rukyat hilal untuk penentuan awal ramadhan – dan sidang isbat. Tetapi tidak ada gunanya! Karena bagi ahli hisab, 1 ramadhan adalah jumat 20 Juli 2012. Sedangkan bagi ahli rukyat, 1 ramadhan adalah Sabtu 21 Juli 2012. Tak ada pengaruhnya kegiatan rukyat Kamis ini. Hidup Indonesia…!

Lalu buat apa repot-repot mengadakan rukyat dan sidang isbat?

Itulah masalahnya. Proses rukyat dan sidang isbat seharusnya dapat menjadi momentum untuk belajar bersama dan dialog untuk lebih memajukan peradaban manusia.

Tetapi premis yang mengantarkan rukyat dan sidang isbat tampaknya sudah menjadi premis tertutup, mati, dan tak dapat diubah.

Premis Ahli Hisab – wujudul hilal

“Bila hasil perhitungan hisab menunjukkan bahwa posisi hilal sudah positif di atas ufuk maka ramadhan telah datang.”

Dengan premis di atas maka tidak perlu rukyat lagi. Karena hasil perhitungan hisab sudah dapat dihitung jauh hari sebelumnya dengan presisi. (Asumsikan syarat ijtimak dan elongasi sudah terpenuhi.)

Sepertinya premis ini benar adanya. Tetapi mengandung risiko tersendiri. Pihak yang berpegang kuat pada teori hisab ini menjadi menutup diri dengan perkembangan alternatif khususnya pendekatan rukyat. Sehingga dialog yang efektif sulit dilakukan. Untungnya orang-orang Indonesia semakin matang. Ahli hisab mengatakan,

“Kami memulai 1 ramadhan di hari Jumat, 20 Juli 2012. Tetapi kami menghormati semua pihak untuk berbeda dengan kami sepenuh hormat. Mari terus kita jaga kerukunan dan kedamaian.”

Salut untuk Indonesia.

Premis Ahli Rukyat – Imkanur Rukyat

“Hilal hanya mungkin diamati bila ketinggiannya lebih dari 2 derajat. Bila kurang dari 2 derajat maka tidak mungkin teramati hilal.”

Premis ini juga sepertinya benar. Bahkan pendekatan sains astronomi modern tampaknya mendukung premis rukyat ini. Bahkan ada yang menetapkan tinggi hilal minimal 6 derajat baru mungkin hilal tampak untuk dirukyat.

Tetapi premis ini mengandung risikonya tersendiri. Khususnya bagian akhir dari premis,

“Bila tinggi hilal kurang dari 2 derajat maka tidak mungkin teramati hilal melalui rukyat.”

Dengan premis ini maka rukyat hari Kamis pasti tidak mungkin berhasil melihat hilal. Karena tinggi hilal memang dari perhitungan adalah 1,7 derajat. Jadi rukyat pasti gagal dan kesimpulannya 1 ramadhan adalah Sabtu, 21 Juli 2012.

Bagaimana jika ada orang yang berhasil rukyat, melihat hilal di Kamis sore ini? Tidak mungkin! Pasti orang tersebut berbohong. Atau orang tersebut salah lihat. Atau orang tersebut kurang ilmu sehingga salah persepsi. Pokoknya tidak mungkin berhasil melihat hilal.

Sampai di sini kita dapat merasakan tidak ada titik temu dari dua pendekatan di atas – hisab dan rukyat.

Saya mengusulkan untuk menggeser sedikit premis agar terbuka pintu dialog untuk kemajuan bersama.

“Bila tinggi hilal kurang dari 2 derajat maka MUNGKIN TIDAK teramati hilal melalui rukyat.”

Dengan premis baru di atas maka mungkin hilal tidak tampak. Tetapi juga mungkin hilal tampak teramati.

Tentu saja dialog juga lebih berkembang bila para ahli hisab juga mau membuka diri untuk aternatif pendekatan-pendekatan baru.

Majulah Indonesia…!

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
GusNGGER | agus Nggermanto

This entry was posted in sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s