Selamat Menapaki Tahun Baru yang Penuh Perhitungan

Hari ini adalah tahun baru.

“Tahun baru apaan Mas?”

Banyak orang tidak merasa bahwa hari ini, Minggu, Ahad, 27 November adalah tahun baru.

“Bukankah tahun baru selalu tanggal merah?”
“Lihat saja kalender Anda pasti merah kan?”
“Memang merah, tapi itu kan karena hari Minggu?!”

Itu masalahnya. Tahun baru kali ini bertepatan dengan hari minggu yang sudah pasti merah. Padahal bila cermati lebih jauh hari ini memang hari libur nasional karena tahun baru Hijriyah atau tahun baru Islam. Yang bersamaan juga dengan tahun baru Jawa.

Tetapi semangat tahun baru hijriyah berbeda dengan semangat tahun baru masehi. Umumnya orang merayakan tahun baru masehi dengan pesta kembang api gegap gempita. Sedangkan semangat tahun baru hijriyah adalah semangat perenungan, perjuangan, dan mawas diri. Sehingga banyak orang meyakini tidak tepat mengadakan pesta pora di tahun baru hijriyah atau sepanjang bulan pertama tahun baru.

Lebih ketat lagi, tradisi jawa melarang pelaksanaan pesta pernikahan di bulan pertama tahun baru yaitu bulan suro atau muharram.

Larangan ini tidak sekedar mengada-ada. Tetapi larangan ini selaras dengan semangat tahun baru sebagai tahun perenungan. Tahun hijriyah didasarkan pada peristiwa perjuangan Nabi bersama para pengikutnya yang harus hijrah berpindah dari kota Makkah menuju kota Madinah. Sebuah perjalanan hijrah yang mengancam nyawa.

Bila sejarah sedikit kita perpanjang sampai tanggal 10 bulan Muharram maka kita akan menyaksikan pengorbanan terbesar cucu Nabi AlHussein di padang Karbala. Hussein dengan pengikut setia mati syahid di karbala demi menegakkan kebenaran dan keadilan, masih dalam nuansa tahun baru hijriyah.

Sekali lagi, semangat tahun baru hijriyah adalah perenungan, perjuangan, dan mawas diri. Bukan semangat pesta pora. Orang Jawa paham benar dengan semangat ini.

Tetapi mengapa SBY yang orang Jawa mengadakan pesta pernikahan di tahun baru hijriyah?

Seharusnyalah SBY menjawab pertanyaan di atas dengan tuntas. Bukankah lebih tepat jika SBY memanfaatkan momen tahun baru untuk perenungan, perjuangan, dan mawas diri?

Tetapi alam semesta tampaknya tidak tinggal diam. Apa maksudnya?

“Itu jembatan terpanjang di Kalimantan Timur runtuh di saat SBY berpesta pora!”

“Apa maksudnya?”
“Alam semesta menegur SBY.”
“Betulkah begitu?”

Salam hangat…
angger | aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Selamat Menapaki Tahun Baru yang Penuh Perhitungan

  1. BAQI says:

    budaya jawa emang kental akan hal2 yang mistik & mitos. tapi klo mslh jembatan kayaknya masalah yang “tdk diridhoi” oleh Allah SWT. mgkn gak pke bismillah waktu ngebangunnya masbro…hehehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s