Berhati-hatilah dengan Harga Murah

Pengalaman ini akhirnya saya temui juga. Apakah Anda pernah mengalaminya juga? Harga murah bergeser menjadi murahan.

Saya termasuk orang yang hati-hati. Tapi terpeleset juga. Semoga teman-teman tidak mengalami kesulitan yang sama dengan saya ini.

Awalnya semua berjalan lancar, sampai malam minggu kemarin. Saya mengantar tamu saya sekeluarga ke penginapan Puri Teh yang sudah saya pesankan sejak 2 hari sebelumnya. Suasana Bandung yang sejuk menambah suasana Puri Teh lebih indah. Saya memilih Puri Teh karena dekat dengan rumah saya yang di Bandung bagian utara.

Sampai halaman Puri Teh kami turun menuju lobi. Kami hendak cek in.

“Maaf Pak, kamar penuh,” kata petugas.
“Kami sudah memesan sejak Kamis kemarin,” kilah saya.
“Atas nama siapa ya?”
“Atas nama Mbak Tari.”
“Tidak ada dalam catatan pemesanan kami!” jelas petugas Puri Teh.

Deg, dalam hati saya. Malam minggu seperti ini mencari alternatif penginapan di Bandung tidak mudah. Semua penginapan di Bandung biasanya sudah penuh sesak sejak jumat atau sabtu. Tamu saya sekeluarga juga sudah terlihat lelah. Jam di dinding sudah menunjukan menuju jam 10 malam.

Di sela-sela keributan kecil itu, tampak berdatangan beberapa tamu lagi yang hendak menginap di Puri Teh. Tetapi kamar memang habis. Mereka harus pergi lagi. Petugas Puri Teh bersikeras bahwa mereka tidak menerima pemesanan kamar dari kami. Lebih parah lagi memang semua kamar sudah terisi penuh. Jadi seandainya kami memang sudah memesan juga tidak bisa apa-apa. Tidak mungkin mereka mengusir tamu yang sedang di kamar.

Saya telepon Mbak Tari, tim saya yang bertugas memesan kamar di Puri Teh. Mbak Tari datang menunjukkan kuitansi pemesanan. Petugas membaca kuitansi dan memang sah. Tertanda penerima uang di kuitansi adalah Aceng. Petugas Puri Teh kemudian menelepon Aceng. Terlihat terjadi keributan di telepon antara mereka. Lalu pembicaraan telepon diserahkan ke Mbak Tari. Keributan semakin menjadi.

“Saya menduga Aceng mempunyai niat tidak baik!”
“Maksudnya?” tanya petugas Puri Teh.
“Aceng bersedia menerima uang pemesanan kami. Tapi Aceng tidak mencatat pemesanan kami di buku pemesanan. Aceng berharap kami tidak muncul lagi dan uang pemesanan itu masuk kantong pribadi Aceng.”
“Ooo…” petugas Puri Teh bengong.

Tidak ada solusi. Aceng yang berjanji akan datang ke Puri Teh untuk meneyelesaikan masalah tidak kunjung datang juga. Tamu saya lelah dan mengantuk.

Puri Teh tidak hanya murah tetapi sudah menjadi murahan.

Bagaimana pun malam minggu ini harus kami nikmati dengan sebaik-baiknya. Pasti bisa!

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s