Mendidik Anak-anak dengan Membebani

Mendidik anak tidak selalu mudah. Bahkan dapat kita katakan mendidik anak selalu susah. Karena susah maka mendidik anak bernilai berkah, mulia, dan utama.

Akhir-akhir ini saya mengamati hubungan “kenakalan” anak dengan beban. Mungkin perlu Anda tahu bahwa saya biasa mengasuh lima anak dari istri saya dan kadang beberapa ponakan. Jadi, bukan tugas ringan momong 5 anak plus ponakan.

Lebaran kemarin saya ke pantai hanya mengajak lima anak itu. Petualangan berlangsung seru. Kami menyewa perahu lalu menyeberang ke Pulau Kerang yang jaraknya kira-kira 5 km dari pantai terdekat. Sampai Pulau Kerang ternyata pulau terendam karena pasang. Tapi kami masih sempat “mendarat” di Pulau Kerang yang terendam air laut setinggi lutut.

Anak-anak bermain air di Pulau Kerang itu. Mereka bergembira. Ombak cukup besar menambah deg-degan – maklum sedang pasang. Paling sikecil yang kadang-kadang agak takut. Air setinggi lutut bagi saya tapi bagi sikecil setinggi dada. Ombak datang, dapat setinggi kepala bagi sikecil. Asyik permainan di Pulau Kerang itu.

Setelah puas bermain – saya anggap puas – kami kembali naik perahu ke pantai. Di pantai kami lanjutkan olah raga renang di kolam renang. Untungnya 4 dari 5 anak saya itu sudah bisa berenang. Jadi hanya perlu sikecil yang umur 3 tahun itu mendapat bantuan ban. Petualangan di kolam renang juga tak kalah seru dengan di Pulau Kerang.

Lagi, setelah puas – saya anggap puas – kami rencanakan pulang. Jalan pulang dengan jalan berangkat tentu beda situasi. Ketika berangkat kita masih dengan semangat penuh. Tapi waktu pulang, tenaga tinggal sisa ditambah beban pakaian basah yang cukup berat.

Perjalanan dari kolam renang ke tempat parkir cukup jauh. Ada sekitar 500 meter atau lebih. Sambil jalan, anak-anak dapat melihat-lihat pedagang menjajakan mainan dan jajanan. Ini merupakan godaan tersendiri bagi anak-anak. Apalagi mereka sedang banyak uang dari lebaran.

Saya memutuskan untuk membagi beban barang bawaan secara demokratis. Maksudnya, masing-masing anak bertanggung jawab membawa tas bawaan. Perjalanan pulang menuju parkir terasa lancar dan menyenangkan. Tapi ibunya anak-anak agak kasihan melihat anak ke-2 dan ke-3 yang tampaknya terlalu berat membawa tas berisi baju basah. Dengan baik hati ibu menawarkan diri untuk membawakan tas itu. Perjalanan menuju tempat parkir dilanjutkan.

Hanya berselang 1 menit masalah lebih serius muncul. Anak ke-2 dan ke-3 hilang dari jalur menuju parkir. Dicari kemana-mana tidak dapat ditemukan. Dipanggil-panggil namanya juga tidak menyahut. Akhirnya ibu mengalah. Menaruh tasnya dan mencari dua anak itu ke tempat yang lebih jauh.

Memang akhirnya dua anak itu berhasil ditemukan. Apa yang harus dilakukan?

Memberi tanggung jawab kepada dua anak itu untuk kembali membawa tas berisi baju basah ke tempat parkir. Perjalanan selanjutnya lancar, aman, dan riang.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Mendidik Anak-anak dengan Membebani

  1. Wah tips yg sangat berguna.
    Terima kasih pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s