Kronologis Kecelakaan Saipul Jamil di Tol Cipularang

Saya jadi tertarik menulis beberapa kemungkinan kronologis terjadinya kecelakaan mobil Saipul Jamil yang mengakibatkan istrinya meninggal. Mungkin ketertarikan saya ini karena saya sering sekali melalui tol cipularang baik sebagai penumpang mau pun pengemudi. Sehingga kronologis ini menjadi catatan bagi saya agar lebih hati-hati melaju di tol Cipularang.

Kronologi 1: Pengemudi lalai

Dengan beban berlebih – 10 penumpang untuk mobil avanza – sedikit lalai sudah fatal. Km 96 dari Bandung merupakan turunan tajam, panjang, dan berkelok-kelok. Tanpa pengemudi menginjak gas sekalipun mobil dapat melaju pada kecepatan melebihi 100 km/jam. Pada kecepatan setinggi itu dan jalan berkelok maka mobil dapat kehilangan keseimbangan lalu oleng.

Tetapi kemungkinan pengemudi lalai pada km 96 menurut saya sangat kecil. Km 96 masih terlalu dekat dengan gerbang tol Cimahi (Baros) mau pun Bandung (Pasteur). Kurang dari setengah jam sudah sampai. Jadi kemungkinan besar sopir masih waspada penuh pada km 96.

Kronologi 2: Disalip mobil lain

Disalip mobil lain dapat juga mengganggu konsentrasi pengemudi atau keseimbangan mobil itu sendiri. Apalagi disalip tak terduga dari sebelah kiri. Tetapi, kabarnya, yang menyali adalah mobil bus.

Perilaku mobil bus di jalan raya dengan di jalan tol sangat berbeda. Di jalan raya, mobil bis seperti penguasa dapat menyalip dari mana saja. Sedangkan di jalan tol, mobil bis tidak ada apa-apanya dibanding mobil avanza apalagi dibanding suv.

Jadi, jika ada mobil bus menyalip dari kiri maka bus tersebut harus melaju dengan kencang di atas 100 km/jam. Dengan kecepatan itu, di km 96, bus justru akan oleng dan celaka. Sehingga tidak mungkin bus menyalip dengan kecepatan di atas 100 km/jam dan aman.

Kemungkinan bus menyalip dengan kecepatan rendah sekitar 60 km/jam. Maka mobil avanza melaju dengan kecepatan lebih rendah lagi di bawah 60 km/jam. Dengan kecepatan rendah ini avanza mestinya stabil dan tidak terjadi kecelakaan.

Kronologis disalip bus ini tampaknya kecil sekali kemungkinannya.

Kronologis 3: Masalah teknis mobil

Ban pecah misalnya dapat fatal. Atau rem blong pasti mengerikan. Memperhatikan laporan dari tkp tampaknya tidak ada masalah teknis mobil.

Perawatan berkala membantu meningkatkan keselamatan berkendara.

Kronologis 4: Perbedaan persepsi turunan dan tanjakan

Bagi penumpang biasa, tidak terasa bahwa km 96 berupa tanjakan tajam menuju Bandung. Tentu menjadi turunan curam ketika dari Bandung. Pengemudi yang konsentrasi dapat merasakan perbedaan dengan mengamati speedometer dan injakan gas.

Untuk mempertahankan kecepatan stabil, pengemudi harus terus menginjak pedal gas menuju Bandung. Sedangkan ketika meninggalkan Bandung justru pengemudi harus mengurangi gas atau bahkan tambah rem agar kecepatan stabil.

Lalai sekejap, terus menginjak gas beberapa saat di km 96 sangat berbahaya. Apalagi tidak membaca kecepatan pada speedometer. Dalam sekejap mobil melaju dengan kecepatan di atas 100 km/jam – tanpa disadari. Ancaman mobil oleng dapat terjadi.

Kronologi 5: Tidak ada yang tahu pasti

Bisa saja tidak yang tahu pasti – kecuali tuhan. Kecepatan 120 km/jam setara dengan 2 km/menit setara dengan 34 meter/detik. Satu detik itu sekejap tapi mobil sudah berpindah sejauh 34 meter – dapat berpindah ke mana saja.

Bagaimana menurut Anda?

This entry was posted in sosial and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s