Berhemat Sejak Usia Muda

Saat itu saya masih duduk di bangku SMP atau SMA. Jaringan listrik PLN belum tersedia di rumah kami. Untuk penerangan kami memanfaatkan lampu minyak atau petromax – strongking.

Tetapi tetangga rumah kami yang berjarak sekitar 200 meter sudah mendapatkan layanan listrik dari PLN. Kebiasaan di sana, masyarakat saling berbagi termasuk listrik ini. Meski demikian tidak mudah berbagi dari rumah tetangga yang sudah punya listrik ke rumah kami. Karena di antara jarak 200 meter itu tidak ada rumah satu pun. Jadi, kami harus benar-benar memasang kabel 200 meter lebih.

Saya tidak ingat betul berapa harga kabel waktu itu. Misalnya saja harga per meter adalah 100 rupiah. Kami perlu 300 meter maka total 100 rupiah x 300 meter = 30 ribu rupiah. Jumlah yang sangat besar dibanding dengan pemakaian listrik yang sebulan kurang dari 10 ribu rupiah – waktu itu.

Masalah lagi, kabel 100 rupiah itu adalah kabel biasa. Sehingga bila kena panas dan dingin sepanjang hari maka kabel itu akan mudah rusak. Jadi saya harus mencari cara untuk lebih hemat. Dan kalau bisa lebih awet.

Untungya saya pernah mendapat pelajaran sekolah IPA yang menerangkan bahwa bumi adalah benda yang bermuatan listrik netral. Artinya bila ada benda yang bermuatan positif maka dapat dinetralkan dengan bumi. Begitu juga bila ada benda yang bermuatan negatif dapat dinetralkan dengan bumi.

Otak saya yang masih remaja – waktu itu – berpikir keras.

Saya mulai muncul ide untuk membeli kabel kawat yang lebih kuat. Harga kabel kawat juga 100 rupiah per meter. Tetapi kabel ini hanya kabel tunggal – beda dengan kabel listrik yang sudah ganda untuk aliran listrik plus dan minus. Jadi kabel kawat tidak dapat kita gunakan begitu saja untuk mengalirkan arus listrik.

“Bukankah kita punya bumi yang netral?” pikir saya.

Akhirnya saya memutuskan membeli kabel kawat tunggal 300 meter dengan total harga 30 ribu – mahal juga. Jika berhasil maka saya telah berhemat dan awet tahan lama. Tapi bila gagal mau bagaimana lagi? Paling kabel kawat itu dapat dibagi-bagikan ke tetangga untuk tali jemuran.

Dengan 300 meter kawat tunggal di tangan saya pergi ke tetangga yang sudah punya aliran listrik. Test pen murahan sudah cukup bagi saya untuk menentukan kabel PLN yang bermuatan listrik. Tanpa mematikan listrik saya menghubungkan kabel tunggal saya ke satu kabel PLN yang saya duga bermuatan listrik. Beres.

Saya balik ke rumah saya untuk mencoba apakah kabel kawat tunggal ini dapat mengalirkan listrik. Tentu saja tidak bisa! Mereka kan kabel tunggal.

Tugas saya berikutnya adalah mencari cara menghubungkan ke bumi untuk pasangan kabel tunggal saya. Saya memilih tanah yang cukup basah. Dugaan saya juga tanah yang basah lebih mudah menghantar listrik dari pada tanah yang kering. Nah kali ini saya sudah memiliki pasangan kabel kawat. Satu dari aliran listrik tetangga dan yang kedua dari aliran bumi tanah basah.

Akankah pasanga kawat itu berhasil memberi daya listrik?

Saya mencoba memasang lampu. Hasilnya…terang benderang: berhasil!

Rumah kami menjadi terang dengan aliran listrik. Lebih penting dari itu saya dapat memutar radio atau kaset kapan pun. Asyik…!

Sesuai dugaan, kabel kawat itu memang awet banget. Bertahun-tahun kemudian tidak rusak. Bahkan sampai rumah kami resmi dapat memasang listrik dari PLN, kabel kawat itu masih utuh. Tapi kami sudah tidak membutuhkan kabel kawat itu lagi. Ya sudah, kami bagi-bagikan ke tetangga untuk tali jemuran.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s