Ilmu Tuhan “Menyelamatkan” Kita dalam Takdir

Sekitar seribu empat ratus tahun yang lalu dikisahkan ada seorang pencuri yang membela diri ketika akan dihukum.

“Hai penguasa, bagaimana Anda dapat menghukum saya. Karena saya mencuri disebabkan oleh takdir Tuhan,” kata pencuri.

“Aku pun menghukum kamu karena takdir Tuhan juga,” jawab petugas hukum.

Pergolakan pemahaman tema takdir – qadha & qadar – sudah dari dulu berlangsung. Hanya saja di jaman sekarang menjadi lebih penting lagi menurut saya. Orang yang tidak percaya takdir lebih berisiko. Sedangkan orang yang percaya takdir lebih aman. Meski demikian tentu saja ada penyelewengan-penyelewengan di berbagai pihak.

Orang yang mengingkari takdir umumnya berargumen bahwa dengan takdir maka hidup kita menjadi sia-sia. Karena semua kehidupan kita sudah ditetapkan jauh hari sebelumnya dalam bentuk takdir. Sehingga manusia tidak punya pilihan kecuali hanya menerima takdir belaka. Tetapi ada pemahaman yang lebih baik dari ini.

Bagaimana pun secara intuitif kita sadar bahwa sebagai manusia kita memiliki kehendak bebas untuk memilih jalan hidup. Kesadaran ini benar dan konsisten dengan konsep takdir. Saya ingin membahasnya lebih detil di kesempatan berikutnya.

Kali ini saya ingin fokus kepada ilmu tuhan sehubungan dengan takdir. Kesalahan memahami ilmu tuhan dapat mengakibatkan manusia kecewa terhadap takdir. Tetapi pemahaman yang tepat tentang ilmu tuhan menjadikan manusia hidup bahagia dengan takdir.

Asumsi:

Karena tuhan maha tahu, dengan ilmu tuhan, tuhan sudah mengetahui semua kejadian yang akan datang dengan tepat dan ilmu tuhan ini 100% benar maka manusia secara terpaksa nasibnya sudah ditentukan oleh tuhan sejak masa lampau.

Jika manusia punya pilihan maka manusia dapat memilih sesuatu yang berbeda dengan ilmu tuhan. Akibatnya ilmu tuhan menjadi salah. Hal ini tidak mungkin karena tuhan maha tahu dan maha benar. Sehingga yang benar adalah kebalikannya: manusia tidak punya pilihan selain terpaksa mengikuti ilmu tuhan.

Sebagai kesimpulan akhir – dari asumsi ini – ilmu tuhan memastikan bahwa takdir bersifat memaksa dan manusia tidak punya pilihan.

Analisis asumsi:

Asumsi di atas sebagian benar sebagian salah. Karena itu menjadi lebih rumit. Akan lebih mudah bagi orang awam tidak menghubungkan takdir dengan ilmu tuhan. Atau yang lebih baik lagi adalah orang awam kita ajak untuk berbaik sangka kepada tuhan.

Alternatif asumsi:

Saya berbagi alternatif asumsi dengan analogi. Misalnya saya adalah seorang guru yang sangat berpengalaman. Saya memiliki banyak murid. Beberapa murid saya akan mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi sekitar 3 bulan lagi.

Karena saya sudah pengalaman dan mempunyai banyak ilmu maka saya menuliskan “ramalan” saya di sebuah buku:

1. Amir diterima di ITB
2. Budi diterima di UI
3. Citra diterima di UGM
4. Dedi diterima di ITS
5. ….

Padahal ujian masih 3 bulan ke depan. Tetapi saya yakin dengan ilmu saya di atas. Saya memang berpengalaman dan berilmu.

Setelah tiba waktu ujian dan pengumuman, hasilnya adalah 100% catatan saya di atas benar. Amir memang diterima di ITB, Budi memang diterima di UI, dan seterusnya.

Mengapa saya dapat melakukan hal di atas? Karena saya memiliki ilmunya dengan lengkap. Sehingga “ramalan” saya 100% benar.

Berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Orang tersebut dapat saja membuat ramalan tetapi hasilnya salah. Agar ramalan tidak salah orang tersebut dapat memaksa misalnya menyogok perguruan tinggi agar menerima siswa bersangkutan. Tetapi hal ini menunjukkan bahwa orang itu memang tidak berilmu.

Apakah ilmu saya atau “ramalan” saya di atas menjadikan para siswa terpaksa masuk ITB atau UI atau lainnya?

Tidak. Tentu saja tidak memaksa. Amir tidak terpaksa masuk ITB. Amir masuk ITB karena ingin dan mampu lulus seleksi ITB.

Jadi, ilmu saya tetap memberi kebebasan kepada anak-anak didik saya.

Demikian juga dengan ilmu tuhan. Ilmu tuhan tidak harus memaksa manusia agar memenuhinya. Tuhan maha tahu. Bahkan tuhan tetap maha tahu meski pun manusia itu mempunyai kehendak bebas berubah pikiran. Jadi ilmu tuhan tetap dapat memberi kebebasan kepada manusia. Dan ilmu tuhan selalu benar.

Asumsi kebalikannya dapat kita uji. Karena ilmu tuhan harus selalu benar maka tuhan harus memaksa semua makhluk agar memenuhi ilmunya agar tidak salah. Asumsi ini tidak menjelaskan tentang ilmu tuhan. Tetapi justru menunjukkan seakan tuhan tidak berilmu sehingga harus memaksa pihak lain agar ilmunya tetap benar.

Jadi, tuhan maha berilmu. Ilmu tuhan selalu benar. Ilmu tuhan tetap memberi kebebasan manusia untuk menentukan pilihan. Nilai lebihnya justru karena tuhan maha berilmu maka ketika tuhan menentukan sesuatu maka tuhan memutuskan dengan pertimbangan yang terbaik.

Karena itu takdir adalah keputusan yang paling baik bagi manusia dan alam semesta. Tuhan menciptakan takdir dengan ilmu yang maha benar. Tuhan maha pengasih dan penyayang. Jadi mari kita syukuri takdir yang maha baik ini.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial, Tuhan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Ilmu Tuhan “Menyelamatkan” Kita dalam Takdir

  1. metafo says:

    Trimakasih pak… sya dapat pencerahan nie….. Logikanya sangat bisa diterima…

  2. gusngger says:

    Terima kasih kembali Metafo,

    Semoga bermanfaat…sukses dan bahagia selalu!

    Salam…

  3. Mengingat ucapan H.Poerwadi, kita manusia hanya bisa berusaha, saya hanya mengharapkan keridhoan Tuhan

  4. gusngger says:

    Ridhonya memang sangat pantut menjadi harapan.

    Salam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s