Dilema Memahami Takdir

Keyakinan kepada takdir memunculkan dilema tak terselesaikan.

Jika Tedi percaya pada takdir maka ia tidak memiliki kekuatan untuk memilih. Segala sesuatunya sudah ditentukan oleh yang di atas. Mengapa harus berusaha, toh hasil akhirnya sudah ditetapkan oleh takdir.

Di sisi lain, jika Tedi tidak percaya pada takdir ia merasa seakan-akan menantang tuhan. Bukankah tuhan yang Maha Kuasa? Sedangkan Tedi sebagai manusia hanya sekedar makhluk.

Jadi, percaya atau tidak kepada takdir, tetap saja dilema menghadang.

Tentu ada jalan keluar! Pasti!

Untuk membahas tema takdir ini lebih akurat saya mencatat beberapa istilah penting.

1. Tuhan Maha Tahu

Tuhan mengetahui segala sesuatu baik di masa lampau, sekarang, atau masa depan. Jadi Tuhan sudah tahu takdir masing-masing orang dari sejak awal. Pengetahuan Tuhan ini 100% benar – tidak ada yang meleset sedikit pun.

Tetapi sifat pengetahuan ini adalah mengikuti obyek pengetahuan – sebagaimana kita pahami. Misal karena tuhan sudah tahu bahwa Tedi akan sukses – sudah tercatat dalam kitab tuhan jauh hari – bukan berarti tuhan merekayasa sedemikian hingga agar Tedi sukses. Sehingga ilmu tuhan menjadi benar.

Sebaliknya yang terjadi. Karena tuhan maha tahu maka tuhan tahu pasti bahwa Tedi pasti akan sukses – tanpa rekayasa tuhan.

Jadi akan lebih sederhana bila kita membahas takdir terpisah dengan sifat Tuhan yang Maha Tahu.

2. Qadha

Ketetapan tuhan yang abadi tidak tersentuh perubahan.

3. Qadar

Kadar, ukuran, ketetapan, mulia, yang terbaik dari Tuhan.

4. Takdir

Penetapan ukuran/kadar yang lebih bersifat manusiawi.

Di sini saya membedakan penggunaan istilah qadar dan takdir. Jika berurusan dengan manusia maka kita akan lebih tepat menggunakan istilah takdir. Tetapi jika berhubungan dengan selain manusia misal dengan peredaran matahari maka kita akan menggunakan istilah qadar.

Misal takdir matahari adalah sebagai pusat tata surya akan kita ubah menjadi qadar matahari. Demikian juga istilah qadar manusia adalah menjadi pemimpin bumi akan kita ubah menjadi takdir manusia.

5. Perbedaan antara menghendaki dan menciptakan.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial, Tuhan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s