Mengoyak Suratan Takdir

Berbicara takdir bagai meneguk air laut. Ketika dahaga terasa maka seperti nikmat sekali bila meneguk air. Tetapi mencicipi sedikit air laut bukanlah menyembuhkan dahaga. Meminum banyak air laut juga bukan penghilang dahaga. Dahaga malah menjadi-jadi – kata orang begitu.

Saya sendiri belum pernah minum air laut. Baru mencicipi sedikit saja asinnya minta ampun. Bagaimana mau meminumnya?

Pembicaraan takdir mirip-mirip begitu juga. Begitu kita menyinggung takdir maka persoalan justru semakin mendalam, melebar, meluas, dan berkembang tanpa batas.

Apakah takdir itu ada?

Bagi orang yang berpikir liberal maka pertanyaan di atas menjadi penting. Mengapa membahas takdir bila ternyata takdir itu tidak ada. Atau mengapa membahas takdir jika seseorang tidak percaya akan adanya takdir.

Sementara bagi kita yang hidup di negara beragama seperti Indonesia maka tema takdir sudah menjadi suatu keharusan. Pilihannya tinggal apakah takdir itu deterministik (jabariyah) sudah ditentukan sebelumnya oleh yang Maha Menentukan ataukah takdir masih menyisakan free will (kodiriyah), kehendak bebas manusia menentukan pilihan.

Banyak orang-orang yang berpikir liberal tidak percaya dengan takdir. Mereka berpandangan hidup ini sepenuhnya ditentukan oleh tindakan dan sikap manusia. Pemikiran ini memang dapat memotivasi seseorang untuk bekerja lebih giat untuk meraih sukses. Gagal atau sukses 100% bergantung pada usaha manusia. Mereka tidak mau mempertaruhkan karir mereka kepada takdir.

Tedi adalah pemuda yang tidak percaya akan takdir. Tedi percaya sukses dirinya bergantung pada strategi yang ia terapkan. Setelah membangun bisnis dari kecil bertahun-tahun, kini Tedi mulai mencicipi sukses. Sukses Tedi semakin menjadi-jadi ketika nilai saham perusahaannya meroket di bursa saham internasional.

Mengapa Tedi sukses begitu hebat?

“Karena saya tidak percaya akan takdir. Semua strategi bisnis sudah saya perhitungkan secara matang,” ungkap Tedi dengan bangga.

Seperti kita tahu pasar saham tidaklah stabil. Hari ini nilai saham bisa saja selangit. Beberapa jam kemudian dapat saja jatuh ke lembah paling dalam. Tedi tidak lepas dari fenomena sahan seperti itu.

Hanya dalam hitungan hari, nilai saham Tedi terjun bebas sampai bagai tak ternilai. Tedi rugi jutaan dolar hanya dalam beberapa malam.

Apa solusinya?

Tedi berusaha menyusun strategi. Tetapi tak ada strategi yang mampu menolak “takdir” ini. Tedi pantang menyerah. Ia masih memiliki satu solusi: minuman alkohol. Beberapa malam berikutnya, Tedi menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan maka semua persoalan selesai.

Benar, persoalan di kepala Tedi selesai sementara. Tetapi begitu ia terjaga dari mabuk, persoalan datang lagi bertubi-tubi. Satu solusi pamungkas akhirnya menjadi pilihan: Tedi gantung diri.

Situasi tidak menjadi begitu rumit seandainya Tedi meyakini adanya takdir dari yang Maha Kuasa.

Ketika Tedi di puncak sukses maka ia tidak sombong. Toh ia sukses karena memang sudah takdir. Begitu juga ketika Tedi jatuh pada jurang kehancuran, ia tidak terlampau cemas karena kejatuhan ini juga karena takdir juga.

Masalahnya adalah ketika Tedi percaya dengan takdir maka membuatnya tidak semangat untuk menyusun strategi. Karena segala sesuatu sudah ada dalam suratan takdir. Mengapa repot-repot?

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
aGus NGGERmanto

(bersambung)

This entry was posted in sosial, Tuhan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s