Membaca Pikiran Remaja ABG

Sekitar jam 9 malam saya berada di teras rumah bersama 2 anak saya. Segerombolan remaja ABG lewat sambil melempar petasan yang meletus dengan keras. Karena jarang bertemu dengan ABG itu maka sekalian saja saya menyapanya dengan teguran,

“Hei…kalau mau main petasan sana cari tempat yang sepi biar tidak mengganggu orang!.”
“Ya Pak, ya Pak,” sahut ABG tersebut sambil lalu.

Saya langsung terbayang apa yang ada dalam benak ABG itu. Saya teringat ketika dulu masih ABG, makin senang saja bila ada yang menegur semacam itu. Sebagai ABG saya justru akan merencanakan serangan petasan yang lebih keras lagi.

Tebakan saya tidak meleset.

Kira-kira 10 menit kemudian saya dan anak-anak masuk rumah. Saya ke kamar mandi pakai sandal jepit. Serangan petasan yang saya pikirkan benar-benar terjadi. Rumah saya bagai terkepung petasan. Saya langsung memikirkan strategi sambil mengingat-ingat masa ABG.

Saya keluar rumah sambil pakai sandal jepit. Gerombolan ABG itu melihat saya langsung lari terbirit-birit. Saya tahu pasti bahwa mereka pasti tidak takut. Justru mereka puas berhasil mengerjai saya. Toh saya tidak akan berhasil mengejar mereka karena jarak cukup jauh. Mereka lari sambil cekikikan. Saya paham perasaan ABG itu karena saya juga pernah ABG.

Saya balik kanan, masuk rumah. Saya yakin betul bahwa gerombolan ABG itu akan mendekati rumah saya lagi. Saya lepas sandal jepit saya kemudian mengenakan sepatu badminton yonex kesayangan saya. Dengan sigap, saya langsung keluar rumah.

Benar saja. Gerombolan ABG itu tepat di depan rumah saya. Mereka lari terbirit-birit dengan wajah takut. Saya tetap berjalan ke arah mereka dengan pasang wajah garang. Meski mereka sudah lari jauh ternyata ada satu ABG yang tidak sempat lari malah sembunyi di balik tembok. Dia tertangkap basah. Wajahnya pucat.

Saya hajar satu ABG itu dengan nasihat mantap. Intonasi rendah, ritme pelan makin membuat satu ABG itu gemetaran mendengar wejanganku.

Sementara itu pada jarak sekitar 50 meter kelompok ABG yang berhasil lari tertawa cekikikan melihat temannya tertangkap basah itu. Saya suruh ABG yang tertangkap itu untuk menasihati teman-teman lainnya.

“Ya Pak, ya Pak,” jawabnya dengan gemetar.

Ia mendekati gerombolan ABG teman-temannya itu dan menyampaikan nasihat dari saya. Teman-temannya makin tertawa terbahak-bahak. Setelah cukup dia menyampaikan nasihat, saya tidak tinggal diam. Saya bergerak dengan cepat menuju geombolan ABG itu. Kontan gerombolan itu lari terbirit-birit pontang-panting.

Saya yakin betul mereka telah takut semua. Karena ketika saya ABG dulu menghadapi situasi seperti itu pasti juga sangat takut. Meski kali ini, dalam hati saya tertawa sendiri.

Saya masuk rumah menunggu perkembangan. Kelompok ABG itu tampak mau pulang. Tetapi jalan pulang satu-satunya adalah lewat depan rumah saya. Apa yang harus mereka lakukan?

Mereka ambil ancang-ancang dan lari sekencang-kencangnya melewati depan rumah saya. “Hahaha….” saya tidak tertawa kecil lagi tapi tertawa lebar menyaksikan perilaku ABG itu.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Membaca Pikiran Remaja ABG

  1. Yudhi says:

    Hahaha… ABG yang ketangkep sambil disuruh jongkok nggak pak?

  2. Pingback: Petasan Betawi |

  3. gusngger says:

    Hehehe…hampir kepikiran begitu. Tambah push up, mantap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s