Hujan Rejeki Berlimpah, Ayo Siapa Mau?

Kepada anak-anak muda saya sering meyakinkan bahwa rejeki itu berlimpah. Jika yang halal saja berlimpah mengapa berpikir yang lain? Halal, berlimpah, dan berkah.

Jika kepada anak muda saya sering mengatakan bahwa rejeki itu berlimpah maka bagaimana dengan orang tua? Kepada para orang tua saya juga tetap menyatakan bahwa rejeki itu berlimpah. Tetapi ada tambahannya yaitu rejeki spiritual lebih berlimpah lagi.

Pertanyaannya bagaimana kita dapat meraih rejeki yang berlimpah itu?

Rejeki berlimpah bagai air hujan yang deras berlimpah. Amir membawa cangkir untuk mengambil air hujan maka Amir mendapat air secangkir.

Bejo memasang ember untuk menampung air hujan maka Bejo memperoleh air sebanyak ember.

Sedangkan Citra memiliki kolam luas di belakang rumahnya maka Citra memperoleh air sebanya kolam luas itu.

Cangkir Amir, ember Bejo, dan kolam Citra adalah gambaran kapasitas diri. Orang yang kapasitasnya besar akan memperoleh rejeki besar. Jadi mari tingkatkan kapasitas diri kita.

Seorang anak muda komentar,”Ya sudah, kalau kemampuannya cangkir ya tidak apa-apa yang penting cangkirnya selusin.”

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Hujan Rejeki Berlimpah, Ayo Siapa Mau?

  1. Ayah says:

    Tetep lebih enak kolamnya selusin drpd cangkir yg selusin hehe..

  2. GusNGGER says:

    Hahaha… itulah manusia…!

  3. Ayah says:

    Terkait rejeki ini P Mario pernah bilang, ” Jika anda yakin Tuhan itu Maha Kaya, Maha Pemberi.. lantas mengapa anda meminta yang kecil-kecil?”. Dan kita pun akhirnnya meminta kepadaNya hal-hal yang besar dan setiap hari merajut mimpi-mimpi besar pula. Tapi kita melupakan satu hal, bahwa ‘wadah’ kita dari kemaren tetap sebesar cangkir. Nah..!

    Tapi adakalanya seseorang suatu saat sudah mempunyai ‘kolam’ unt menampung curahan hujan rejeki dariNya. Tp kemudian terlena merawat dan menjaganya, hingga lama-lama mengecil… bukan saja menjadi sebesar cangkir, tp mengerut menjadi telapak tangan, yg hanya mampu menengadah.. sedangkan jari2nya tak bisa mencegah rejekinya yg selalu merembes habis.

  4. GusNGGER says:

    Makin seru!

    Salam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s