Belajar Apa dari Yahudi (3)

Di gurun padang pasir yang luas hiduplah segerombolan penyamun yang ganas. Gerombolan penyamun ini dipimpin oleh seorang pemimpin yang ditakuti dan dikenal sebagai Penyamun Gurun.

Penyamun Gurun telah banyak merampok orang dan membunuh banyak korbannya.

Ketika Penyamun Gurun ini hendak membunuh seorang korbannya, ia mendengar suara. Sebuah suara yang membuat Penyamun Gurun bertobat.

Penyamun Gurun mengumpulkan anak buahnya yang banyaknya puluhan orang.

“Aku bertobat dari kehidupan kita yang gelap,” kata Penyamun Gurun.

Anak buahnya tampak tidak mengerti.

“Aku akan berhenti sebagai perampok dan akan menjalani hidup wajar. Karena itu masuklah ke kemahku. Di sana aku menyimpan banyak uang emas. Ambillah dan bagi rata semua untuk kalian.”

Kali ini para anak buah paham. Mereka dengan semangat menyerbu kemah bosnya dan membagi limpahan uang emas. Kecuali satu orang anak buah yang Yahudi.

Penyamun Gurun meninggalkan anak buahnya yang berebut harta kekayaan itu.

“Tunggu dulu,” kata anak buah yang Yahudi dan tidak ikut berebut.

“Ada apa?” tanya Penyamun Gurun.

“Kamu sudah bertahun-tahun memerintah aku. Kamu perintah merampok, aku lakukan. Kamu suruh membunuh aku lakukan. Kini ijinkan aku ganti memerintah Kamu!” kata anak buah yang Yahudi.

Karena sang Penyamun Gurun memang sudah ingin bertobat maka ia memenuhi permintaan Yahudi itu.

“Baiklah… apa perintahmu?”

“Di kemahku, di bawah tikar, aku menyimpan uang emas. Tolong ambilkan segenggam penuh uang emas itu,” perintah si Yahudi.

Penyamun Gurun mematuhi perintah itu. Ia menuju kemah Yahudi kemudian mengambil segenggam uang emas di bawah tikar. Di bawanya segenggam uang emas itu ke depan Yahudi.

“Kamu benar-benar bertaubat!” seru si Yahudi.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak menyimpan uang emas di kemahku. Tetapi kitab Taurat menyebutkan bahwa orang yang benar-benar bertaubat bila menyentuh pasir dapat berubah menjadi emas. Ijinkan aku ikut agamamu,” si Yahudi meminta.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat,

aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Belajar Apa dari Yahudi (3)

  1. Ayah says:

    Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Saat hati terbuka, dan sinar hidayah-Nya datang, semuanya bisa terjadi. Kisah yang sangat inspiratif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s