Menemukan Bidadari Hati (Kisahku 3)

Widjaksono memulai lembaran baru. Suasana Dago utara yang sejuk mendorong aku bangkit. Melalui jendela kaca aku menatap ke arah barat, utara, pegunungan Lembang nan hijau mengajakku untuk tumbuh dalam damai. Angin semilir dingin, hangat matahari menyapaku. Ku buka pintu kamar kos paviliunku, hembusan udara segar Bandung utara menantangku. Bangkitlah atau meringkuk kembali di kamarmu.

Widjaksono kecil telah bertubi-tubi lulus dari cobaan hidup. Tetapi saat ini aku bukan Widjaksono kecil. Aku adalah sarjana ITB. Pengalamanku lebih matang dari Widjaksono kecil itu. Aku adalah Widjaksono dewasa. Meski sudah dewasa, sudah menyelesaikan pedidikan sarjana di perguruan tinggi terbaik Indonesia, tapi tampaknya aku belum belajar dan belum pengalaman menangani badai patah hati. Lebih dari patah hati, hatiku hancur berkeping-keping. Biar pun berkeping-keping, itu tetap hatinya seorang Widjaksono, pantang menyerah.

Sudah cukup aku meratapi diri. Aku bangkit menyusun strategi.

“Patah satu tumbuh seribu.”

“Aku sering ditikam cinta, pernah dihembuskan badai, namun aku tetap berdiri.”

Kehidupan profesionalku tidak terganggu dengan patah hatiku. Kondisi keuanganku juga masih stabil. Aku sudah bekerja sejak masih mahasiswa. Tidak pernah minta kiriman uang dari orang tua sejak hari pertama kuliah. Apa lagi sekarang aku adalah sarjana. Tetapi aku tidak mau menghibur diri dengan menyibukkan diriku dalam dunia kerja yang super sibuk. Aku menjadi dosen di STT Telkom, menjadi guru di beberapa bimbingan belajar, dan menjadi peneliti muda di ITB. Dengan mudah aku dapat melupakan pahitnya patah hati dengan mengisi hari-hari penuh kerja profesional. Itu adalah jalan pelarian diri. Widjaksono tidak akan melarikan diri. Widjaksono akan menghadapi masalah sebenarnya. Apa pun taruhannya.

Aku patah hati. Hatiku kosong tiada cinta. Itu masalahku saat ini. Aku akan mencari cinta. Mengisi penuh hatiku. Menegakkan kembali hati yang patah dengan segala upaya.

Aku bersiap memulai hari dengan pekerjaan ringan dulu: mengajar matematika siswa SMA. Aku sambar tas dan beberapa buku. Keluar dari kamas kos Dago 484. Menunggu angkot warna hijau jurusan Dago – Kalapa. Tidak lama menunggu angkot datang, saya naik dan turun di depan Masjid Darul Hikam. Masih di kawasan Dago. Saat itu aku punya jadwal untuk mengajar matematika di Bimbingan Belajar Averous. Bertemu dengan siswa-siswa SMA pasti membuat pikiranku lebih segar. Apalagi mengajar matematika pasti makin segar lagi. Meski banyak orang yang merasa pusing bila berurusan dengan matematika, aku sebaliknya, makin segar bila berurusan dengan matematika.

Hidupku kembali ceria. Habis mengajar aku bertemu temanku yang juga pengajar di Averous.

“Mas Pray, aku pinjam motormu sebentar sampai jam 1 bisa?”

“Silakan, pakai saja Jak,” jawab Mas Pray.

Dengan bermodal motor pinjaman, hati yang sudah mulai riang, aku bersiap menyongsong masa depan. Aku susuri jalan Dago ke arah bawah. Kemacetan lalu lintas di Simpang Dago sudah mulai terurai siang itu. Belok kanan masuk jalan Siliwangi, Cihampelas, kemudian masuk jalan paling aneh di Bandung: jalan Lamping. Jalan Lamping hanya sepanjang 100 meter dan lebarnya hanya cukup untuk 1 atau 2 mobil saja. Tetapi jalan Lamping ini adalah jalan utama yang menghubungkan Bandung kota dengan Lembang yang indah. Kita hanya dapat masuk jalan Lamping melalui jalan Cihampelas. Bagi orang luar jalan Lamping ini tampak seperti hanya sebuah gang. Mereka tidak akan mengira itu adalah jalan utama.

Aku sudah biasa menelusuri jalan Lamping, Cipaganti, Setiabudhi, lampu merah pertigaan Gegerkalong Hilir. Aku masih berjalan lurus. Mendekati UPI aku belok kiri memasuki jalan Gegerkalong Girang. UPI adalah singkatan Universitas Padahal Ikip kata orang-orang. Meski orang UPI sendiri selalu menyatakan UPI adalah Universitas Pendidikan Indonesia. Bagiku tidak terlalu beda UPI atau IKIP atau Unpad atau lainnya.

Aku hanya terbayang ketika masih mahasiswa dulu bersama teman-teman ITB bila mendekati kampus IKIP maka kami akan meneriakkan yel-yel,

“Bukan mahasiswa IKIP, bukan mahasiswa IKIP!”

Bila mendekati Unpad kami meneriakkan yel-yel,

“Bukan mahasiswa Unpad, bukan mahasiswa Unpad!”

Tentu saja mahasiswa dari universitas lain tidak akan berani membalas dengan yel-yel,

“Bukan mahasiswa ITB, bukan mahasiswa ITB!”

Aku tersenyum dalam hati membayangkan pengalaman awal-awal menjadi mahasiswa Teknik Elektro ITB itu. Kenangan manis, kenangan lucu, kenangan narsis menjadi semacam doping bagi jiwaku. Sampai juga aku di Gegerkalong Girang 38: kampus pondok pesantren Daarut Tauhiid yang dipimpin oleh Agym.

“Assalamualaikum, apa kabar Mas Jak?” sapa Pak Ayik.

“Waalaikum salam, Alhamdulilah, luar biasa, Allahu Akbar,” jawabku yang sudah terbiasa.

“Sudah lulus kuliah di ITB ya?”

“Baru lulus. Ini saya mau bertemu Ustadz Deden.”

“Wah betul itu. Aku siap membantu,” Pak Ayik menawarkan bantuan dengan baik hati.

Aku masuk ke ruang Ustadz Deden. Sementara Pak Ayik pergi dulu sedang ada perlu. Ustadz Deden dengan ramah menyodori saya setumpuk kertas. Aku terima tumpukan kertas yang setebal kira-kira seratus halaman folio.

Tidak semua orang dapat masuk ke ruang kerja Ustadz Deden. Apalagi mendapat informasi berharga setebal seratus halaman. Karena kami sudah lama saling kenal maka Ustadz Deden dapat mempercayai aku. Dan aku menjaga dengan baik kepercayaan itu.

Seratus halaman folio itu adalah data pribadi para ahkwat yang belum menikah. Lengkap dengan foto masing-masing. Aku lupakan dulu sejenak diriku yang bernama Widjaksono. Kini aku sedang menjadi Arjuna yang mencari cinta. Mata Arjuna berbinar-binar memandangi seratus foto akhwat yang potensial.

Dengan cepat aku scan dan menyortir, mengambil sepuluh kandindat terbaik. Memilih seratus wanita bukan tugas yang mudah. Agar menghemat waktu aku menyusun kriteria yang paling mudah diterapkan. Aku memilih sepuluh akhwat yang paling cantik. Tugas ini meski agak lama, akhirnya dapat aku selesaikan dengan baik. Ada rasa kebanggaan tersendiri terselip dalam hatiku. Aku seorang laki-laki memilih seratus wanita yang tersedia. Luar biasa!

Dari sepuluh wanita tercantik aku harus memilih lagi. Kriteria berikutnya aku akan memiih dengan kriteria wanita sholihah. Tapi kriteria wanita sholihah ternyata tidak dapat aku gunakan di sini. Karena bahkan seratus wanita yang dari awal semuanya memenuhi kriteria sholihah. Mereka semua adalah santri DT. Aku harus berpikir mencari kriteria lain. Aku putuskan kriteria tersebut adalah pendidkan.

Kriteria pendidikan yang aku pilih adalah dia yang lulus S1 atau mahasiswa akhir program S1 segala jurusan. Lulusan D3 tidak akan lolos seleksiku. Apalagi lulusan SMA. Pokoknya aku besar kepala waktu itu. Bahkan bila ada yang cantik tetapi lulusan S2 pun aku juga tidak mau memilihnya. Berhasil. Kriteria ini memberi tiga pilihan wanita cantik lulusan S1.

Dari tiga wanita cantik yang tersisa, saya harus memilih satu saja. Cantik, sholihah, dan berpendidikan. Mereka telah memenuhinya. Kriteria berikutnya adalah kriteria geografis. Aku tinggal di Bandung, Jawa Barat. Orang tuaku tinggal di Tulungagung, Jawa Timur. Alangkah enaknya jika aku mendapat istri dan mertua dari Jawa Tengah, pikirku.

Apakah dari tiga kandindat yang tersisa ada yang berasal dari Jawa Tengah?

“Sudah dapat Mas Jak?” Pak Ayik mengagetkanku dengan tiba-tiba masuk ke ruangan.

Aku pandangi berkas tiga kandidat. Berharap semoga ada salah satunya yang berasal dari Jawa Tengah. Lalu aku ambil satu dan kusodorkan ke Pak Ayik.

“Nah itu, dari tadi aku mau mengusulkan itu!” Pak Ayik mendukungku.

“Ayo ikut aku,” Pak Ayik mengajakku meninggalkan ruangan.

Pak Ayik membawaku ke SMM: Super Mini Market DT.

“Itu dia, ada di sana, di kantor yang berdinding kaca,” tunjuk Pak Ayik.

Aku terhenyak sesaat. Lebih cantik dari fotonya. Gadis cantik ini berkaca mata. Mengenakan kerudung warna pink. Selaras dengan bajunya yang bermotif pink dan ungu. Aku melihatnya tapi dia tidak melihatku. Tampaknya dia sedang diskusi dengan teman kerjanya.

“Masak sih Akhwat secantik itu belum ada yang melamar?” aku tidak percaya. Sejauh pengetahuanku, tidak ada akhwat cantik yang bertahan lama di sini. Pasti banyak ikhwan yang berebut melamar akhwat cantik itu.

“Sudah banyak Mas! Tapi ditolaknya. Standarnya sangat tinggi,” kata Pak Ayik.

Deg! Bagaimana jika dia juga menolakku? Apakah aku harus mengulang kembali ke Ustadz Deden dengan tumpukan seratus foto itu?

“Pak Ayik, aku mau pergi dulu nih. Soalnya aku tadi ke sini pinjam motor temanku. Aku harus mengembalikannya dulu.”

“Mas, aku minta foto kamu dong. Biar aku kasihkan ke dia dulu.”

Dengan deg-degan aku rogoh dompetku. Masih ragu-ragu aku berikan foto hitam putih ukuran 4 x 6 ke Pak Ayik dan banyak membaca doa dalam hati.

@#$

Kali ini, istriku mendengarkan ceritaku dengan penuh perhatian dan senyum. Bahkan ia tertawa meski berlinang air mata. Berlinang air mata ia cantik, tersenyum cantik, cemberut juga cantik. Aku bersyukur memiliki istri seperti dia. Sejenak aku lupakan kaki kiriku yang patah.

“Sekarang ganti Kamu yang cerita,” aku usul.

“Tidak apa-apa. Mas Jak saja yang cerita,” jawab istriku dengan semakin deras tetes air mata.

Aku dapat menduga bahwa air mata itu adalah karena diriku yang kini kehilangan kaki kiri. Aku berharap banyak bahwa kaki kiriku dapat disambung kembali. Tetapi aku juga harus bersiap seandainya memang menjalani sisa hidup hanya dengan satu kaki. Kubiarkan istriku berlinang air mata. Meski aku tidak ingin menambah tetesan air mata lagi, air mata itu masih menetes. Entah sampai kapan.

This entry was posted in sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Menemukan Bidadari Hati (Kisahku 3)

  1. ahsanfile says:

    Kayaknya aku harus baca dulu dari kisah sebelumnya, ntar baru berkomentar😀

  2. metafo says:

    Wahhh pak, kisah 1 sampe 3 nya oK smua, bikin jiwa penasaran dan mata terus melangkah……. kisah k 4 ditunggu…

  3. GusNGGER says:

    Terima kasih Metafo,

    Kisah k 4 segera menyusul…

    Salam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s