Memanfaatkan Persaingan Bisnis setelah Monopoli

Saat itu saya sengaja saja ingin nonton film Last Samurai malam minggu bersama orang yang aku sayangi. Malam minggu itu adalah malam pertama Last Samurai diputar di 21 Bandung. Pasti penonton penuh sesak.

Sesuai dugaan, saya sampai BIP (Bandung Indah Plaza) sekitar jam 20.00, antrian orang beli tiket memanjang bagai ular lebih dari 50 meter. Di sekitar antrian yang memanjang berjubel-jubel orang lesehan di lantai yang berdebu sedang menunggu.

“Tiket habis. Jam setengah 9 habis. Jam 9 habis. Setengah 10 habis. Hanya tersisa jam 11 itu pun barisan paling depan,” petugas memberi informasi.

Saya putuskan untuk menunggu sejenak. Saya mengamati apa yang terjadi di 21 BIP itu. Orang-orang rela berjubel-jubel. Menunggu di ruang tunggu yang berdebu, tidak ada kursi, tidak ada minuman, tidak ada senyuman. Menunggu berjam-jam. Membayar harga tiket yang mahal.

Saya pulang. Tidak jadi menonton. Tapi saya ingin nonton minggu depan. Sekedar ingin tahu apa yang akan terjadi.

Malam Minggu kedua saya datang ke BIP lagi. Apakah antrian masih panjang seperti minggu lalu? Memang benar antrian masih sepanjang yang lalu. Orang masih berjubel-jubel. Saya tidak jadi nonton Last Samurai lagi malam itu.

Saya sengaja ingin menikmati suasana monopoli bioskop saat itu. Konsumen sama sekali tidak mendapat layanan sewajarnya. Bahkan loket pembelian tiket pun hanya adalah lubang kecil yang sekedar cukup untuk memberi tiket dan uang saja. Tanpa senyum apa lagi kehangatan. Sebagai konsumen mau bisa apalagi? Tidak ada pilihan selain monopoli 21 waktu itu.

Situasi mulai berubah ketika Blitz Megaplex mulai hadir di Paris Van Java Bandung. Blitz langsung sukses diserbu oleh penonton. Blitz menawarkan layanan yang ramah dan cepat. Suasana ruang tunggu nyaman bahkan enak dipakai untuk diskusi. Singkat cerita, Blitz berhasil menggoyang dominasi raksasa 21.

Bahkan saya sendiri pernah kerja sama dengan Blitz mengajar matematika di gedung bioskop dengan kapasitas siswa sekitar 300 orang. Saya yakin itu adalah yang pertama belajar matematika di gedung bioskop. Saya menyiapkan materi matematika dalam bentuk power point kemudian disorotkan di layar lebar layaknya menonton film. Wow…seru!

Dengan goyangan Blitz ini, 21 akhir merespon dengan positif. Mereka mencoba nama baru XXI yang menawarkan layanan lebih ramah, ruang tunggu nyaman, dan kualitas OK. Bagi saya sendiri yang tinggal di kawasan Gegerkalong menjadi diuntungkan dengan persaingan Blitz – 21. Saya dapat nonton ke Blitz di Sukajadi yang dekat. Saya juga dapat memilih nonton di XXI yang juga dekat.

Persaingan sehat memicu para pebisnis untuk bersaing memberi layanan lebih baik.

Akhir-akhir ini saya juga melihat persaingan seru KFC menyalip Mc D. Dulu, anak-anak saya hanya mengenal istilah Mc D. Kini anak saya yang masih 2 tahun justru hanya kenal KFC, nama Mc D dia belum kenal.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…

aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s