Apakah Anda Membutuhkan Sang Pemicu?

Siapa yang membutuhkan pemicu kerusuhan?

Amit-amit! Tetapi pemicu prestasi, mengapa tidak?

Saya mengamati beberapa orang yang sukses telah menemukan pemicu yang unik. Mari kita diskusikan sedikit demi sedikit.

Haddad Alwi, Anda pasti kenalkan? Menurut saya Haddad adalah penyanyi religus yang memiliki suara istimewa, mendayu-dayu, mengiris hati. Meski begitu, sukses Haddad harus menunggu waktu yang cukup lama. Sampai suatu saat datanglah sang pemicu: Sulis kecil.

Duet suara Haddad Alwi dengan bocah polos suara melengking Sulis tak pelak lagi meraih sukses luar biasa. Sebenarnya Haddad sudah memiliki kualitas sama baik sebelum duet dengan Sulis kecil. Tetapi masyarakat tidak begitu peduli. Begitu bersanding dengan Sulis kecil maka masyarakat terpicu dengan duet mereka.

Baru-baru ini kita kenal artis yang mendadak ngetop: Syahrini (atau Syahrani ya?). Syahrini beberapa tahun lalu sudah menyanyi dengan suara bagus seperti itu. Tetapi tidak banyak yang mengenal Syahrini. Sampai suatu saat sang pemicu datang: perceraian Anang dan KD.

Setelah bercerai dengan KD, Anang membutuhkan pasangan untuk menyanyi. Syahrini yang menjadi pilihan. Masih dalam latar ramai-ramainya orang gosip perceraian Anang KD, Syahrini tampil bersama Anang. Seperti kita tahu, Syahrini meraih sukses besar.

Sedikit contoh lagi tentang tetangga saya: Agym. Sejak tahun 90an Agym konsisten memberikan ceramah-ceramah agama yang menarik. Beberapa orang tertarik. Tetapi masih sebatas tetangga dan beberapa orang Bandung dan sekitarnya. Agym juga memberi ceramah setiap Senin dan Kamis di radio Rase FM. Tetapi masih sepi pendengar.

Suatu saat datanglah sang pemicu: siaran radio setiap hari di Paramuda. Setiap habis subuh Agym siaran langsung melalui radio Paramuda. Karena konsisten setiap hari Agym memperoleh sambutan hangat dari masyarakat. Pemicu lebih besar lagi muncul kemudian: Agym diundang presiden untuk memberi ceramah dan disiarkan melalui televisi nasional. Agym sukses.

Sebelum masuk tv nasional Agym juga sudah ceramah dengan kualitas yang sama. Tetapi baru setelah pemicu muncul Agym meraih sukses. Bagaimana dengan poligami? Apakah poligami juga merupakan pemicu? Terserah Anda.

Sekarang mari bicara tentang bisnis saya. Saya sudah menekuni bisnis kursus matematika kreatif APIQ sejak tahun 2000an. Tetapi perkembangannya masih biasa-biasa saja. Sampai tahun 2008 koneksi internet di Indonesia menjadi mudah dan murah bisnis APIQ menjadi berkembang pesat melalui internet.

Apakah bisnis APIQ membutuhkan pemicu lagi?

Menurut saya ya! Bisnis APIQ membutuhkan pemicu positif lagi agar generasi kita menjadi mencintai matematika dan menikmati indahnya belajar matematika.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat,

aGus NGGERmanto

 

This entry was posted in sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Apakah Anda Membutuhkan Sang Pemicu?

  1. giewahyudi says:

    Iya saya perlu pemicu, tanpa itu saya tidak bias sekencang ini. hihihii

  2. GusNGGER says:

    Nah kalau yang itu pemicu dan pemacu…

  3. Yudhi says:

    Boleh juga belajar dari polisi gorontalo kita.

    Untuk masyarakat Indonesia, kreativitas dan keberanian untuk tampil bisa juga menjadi pemicu kita untuk dikenal menjadi terkenal.

  4. Majlis says:

    Hidup memang perlu pemicu (semangat) yang penting bukan memicu huru hara…

  5. GusNGGER says:

    Internet youtube banyak memicu hal-hal tak terduga: polisi, keong racun, mbah surip dll. Kita perlu menjadikan internet sebagai pemicu positif.

    Salam…

  6. nendi says:

    buduh pemicu lebih banyak yg positif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s