Kontroversi Kehebatan Bimbel (Bimbingan Belajar)

Membaca tulisan Pak Budi Rahardjo tentang pro-kontra bimbel di milis dosen ITB mengingatkan saya akan kenangan sebagai guru dan pebisnis bimbel. Sejak sebagai mahasiswa ITB saya sudah menjadi guru bimbel – berbagai macam bimbel di Bandung.

Karena itu sekalian saja saya ingin mencatat beberapa pengalaman positif dan negatif saya di bimbel. Saat ini saya sudah tidak berkecimpung di dunia bimbel. Saya mengembangkan bisnis franchise matematika kreatif APIQ sambil menjadi dosen di kampus tercinta ITB.

Masih tingkat I (tepatnya semester I) sebagai mahasiswa Elektro ITB saya mendaftarkan diri sebagai guru bimbel di Pusat Bimbel Villa Merah bandung. Saya lulus beberapa test dan mulai berkarir sebagai guru bimbel profesional.

Sebagai guru bimbel, saya harus kreatif. Karena kebutuhan dana untuk membiayai hidup dan kuliah di Bandung saya semangat bekerja di bimbel. Villa merah memberi saya banyak pelajaran positif. Waktu itu saya mengajar pelajaran matematika. Tetapi karena kadang-kadang dibutuhkan guru fisika dan kimia maka saya juga mengajar fisika dan kimia.

Apakah bisa saya mengajar fisika dan kimia? Mahasiswa ITB, apa saja bisa dong! Apalagi teknik elektro gitu lho… Tentu saja saya harus belajar banyak untuk menjadi guru yang baik.

Mengajar siswa kelas 1 atau kelas 2 selalu menyenangkan. Tetapi mengajar anak kelas 3 atau alumni yang akan menempuh UMPTN (atau SPMB, sekarang SNMPTN) terjadi pergulatan batin. Masak sih saya hanya membantu para siswa yang mampu membayar? Bagaimana dengan siswa miskin yang tidak mampu membayar bimbel? Kan mereka nanti akan bersaing di ajang yang sama: UMPTN, SPMB, atau SNMPTN.

Setelah banyak pertimbangan saya tetap lanjut menekuni karir di bimbel. Bahkan saya juga mengajar untuk mahasiswa TPB ITB. Siapa takut? Di saat yang sama saya terpilih sebagai asisten dosen untuk praktikum fisika dasar di ITB – semakin menambah percaya dirikan?

Sudah biasa guru di bimbel Villa Merah akan mengajar di bimbel yang lebih besar yaitu GO: Ganesha Operation. Saya juga lolos test untuk menjadi guru GO. Bagi saya mengajar di GO terasa sangat ringan karena saya hanya fokus di bidang matematika saja.

Tidak lama kemudian saya dengar bimbel Primagama mulai masuk Bandung. Saya cari pengalaman dengan mendaftar menjadi guru. Tentu saja saya diterima. Waktu itu Primagama beralamat di jalan Gatot Subroto Bandung. Ada juga bimbel tua yang masih ada di Bandung yaitu Teknos. Saya coba juga untuk menjadi guru. Pasti diterima.

Menjelang tingkat akhir kuliah di ITB saya tertarik untuk mencoba menjadi guru di SSC – Sony Sugema College. Wah tes menjadi guru di SSC waktu itu cukup ketat. Dan Anda dapat menebak hasilnya, saya diterima menjadi guru matematika di SSC pusat jalan Sumur Bandung 10.

Kira-kira itulah akhir dari karir saya di dunia Bimbel. Ternyata tidak! Saya bekerja sama dengan Agym mendirikan bimbel Daarut Tauhiid yang bernama PraUniversitas Daarut Tauhiid. Kami menyingkatnya dengan PraU DT. Bimbel PraU ini sangat unik karena mengangkat tema Quantum Learning. Bahkan dari banyak pengalaman itu saya berhasil menulis buku best seller pertama saya: Quantum Quotient.

Itulah akhir karir saya di Bimbel. Ternyata tidak!

Saya justru terlibat aktif membidani lahirnya bimbel fenomenal di Bandung: IZI Komunitas Belajar.

Bersambung…

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…

aGus NGGERmanto

This entry was posted in sosial and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kontroversi Kehebatan Bimbel (Bimbingan Belajar)

  1. adeliarekhaa says:

    Lbb yg bagus itu ssc apa go ya? Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s