Anak laki-laki saya waktu itu baru berumur 8 tahun tapi sudah berani menggugat Nabi Adam – nabi pertama pemimpin manusia.
Tentu kita sudah akrab dengan penciptaan manusia pertama Nabi Adam dan Bunda Hawa. Adam diciptakan Allah dan tinggal bahagia bersama Hawa di surga. Bahkan tanpa melakukan apa-apa mereka sudah mendapat hadiah istimewa: ijin masuk surga.
Sedangkan kita saat ini harus bekerja keras untuk dapat meraih tiket masuk surga. Bermalas-malasan dapat kehabisan tiket surga. Mengumbar nafsu, apa lagi, ancaman neraka telah menanti. Begitulah kehidupan manusia di bumi.
Lalu mengapa manusia hidup di bumi, tidak seperti Adam Hawa di surga?
Kita juga sudah tahu kisahnya yang penuh makna. Adam Hawa boleh menikati apa saja di surga. Kecuali mendekati satu buah terlarang – pohon khuldi. Singkat cerita, meski hanya satu larangan, ternyata Adam Hawa malah melanggarnya dengan makan buah khuldi tersebut. Adam Hawa bertobat atas kesalahannya. Tuhan menerima tobat mereka. Tetapi sebagai tebusan pelanggaran itu maka Adam Hawa ditempatkan di bumi.
Begitulah seterusnya anak cucu Adam tinggal di bumi ini.
Memahami kisah seperti di atas, anak saya yang berumur 8 tahun mulai protes,
“Coba kalau Adam Hawa tidak makan khuldi maka kita enak tinggal di surga!”
Saya berpikir sejenak,
“Untung Adam Hawa makan khuldi maka kalian jadi ada.”
Giliran anak saya yang berpikir keras,
“Betul juga ya…”
Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
aGus NGGERmanto